Sabtu, 03 November 2012

gunung emas



MAKALAH GEOLOGI DAN GEOMORFOLOGI INDONESIA
“PROSES TEKTONIK DAN ENDOGEN GUNUNG YANG MENGANDUNG EMAS”
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah geologi dan geomorfologi indonesia    
Dosen pengampu : Wahyu Setyaningsih ST,MT.



Disusun oleh :
Siti Hayani (3201411145)





JURUSAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyusun makalah Geologi dan Geomorfologi Indonesia dengan tema “GUNUNG YANG MENGANDUNG EMAS” ini tepat pada waktunya tanpa kendala apapun.
Kata maaf tak lupa kami ucapkan apabila dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan,selain itu saran dan kritik sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah Geologi dan Geomorfologi Indonesia ini.





Semarang,28 Oktober 2012

                                                                                                             Penulis




DAFTAR ISI
                                                                                                                                                  Halaman
Kata pengantar…………………………………………………………………………........i
Daftar isi……………………………………………………………………………….……ii
Bab I.Pendahuluan
A.Latar Belakang Masalah…………………………………………………………..1
B.Rumusan Masalah…………………………………………………………………1
C.Tujuan……………………………………………………………………………..1
Bab II.Isi
A. Proses terbentuknya Gunung Api………………………..…………..……….…..2
D. Proses Terbentuknya Bijih Emas……....…………………………...………...…2-3
C. Proses tektonik dan endogen terbentuknya gunung api emas………………....….3
D.Contoh gunung yang mengandung emas di Indonesia………………………….4-5
Bab III.Penutup
A.Kesimpulan………………………………………………………………………..6
Daftar Pustaka……………………………………………………………………….… ….7

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah
Akibat lain daripada gerak / dinamika tektonik, pada bagian lain terutama daerah yang berdekatan zona tepi interaksi antar masing-masing lempeng kerak berada dibawah gaya dan tekanan yang selanjutnya akan mengakibatkan perubahan sifat fisik batuan penyusun lempeng kerak bumi yang mengandung kandungan emas yang kemudian disebut sebagai deformasi batuan. Apabila tekanan melampaui batas dari daya tahan batuan maka batuan yang mengandung emas tersebut akan membentuk Patahan dan apabila batuan pada kondisi fisik tertentu mampu untuk mempertahankan daya elastisitasnya namun berubah karena tekanan maka batuan yang mengandung emas tersebut akan mengalami Perlipatan, sehingga gejala dinamika sebagaimana diterangkan menyebabkan, terbetuknya Gunung api yang mengandung emas.

B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana proses tektonik terbentuknya gunung api yang mengandung emas?
2.      Bagaimana proses endogen terbentuknya gunung api yang mengandung emas?

C.     Tujuan
1.1.Mengetahui proses tektonik terbentuknya gunung api yang mengandung emas
1.2.Mengetahui proses endogen terbentuknya gunung api yang mengandung emas
 
BAB II
ISI

A.    Proses terbentuknya gunung api

Vulkanisme yaitu peristiwa yang sehubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktifitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi.Magma dapat berbentuk gas padat dan cair. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi bagian dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma. Tentunya Anda masih ingat bahwa jika aktivitas magma mencapai ke permukaan bumi, maka gerakan ini dinamakan ekstrusi magma. Jadi ekstrusi magma adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan terjadinya gunung api. Ekstrusi magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa terjadi di lautan. Oleh karena itu gunung berapi bisa terjadi di dasar lautan.

B.     Proses terbentuknya bijih emas
Bijih emas secara alami terbentuk dari aktifitas hidrotermal yang menghasilkan cebakan dengan komponen utama silika. Hidrotermal sebagai media pembawa emas, mengendapkan emas dan logam ikutannya pada pori batuan, struktur geologi atau rongga lain, serta apabila keluar menjadi mata air panas dapat menghasilkan cebakan bijih emas di permukaan tanah. Lingkungan pembentukan bijih emas tersebut merupakan lingkungan yang sama dengan keberadaan sistem panas bumi. Kondisi geologi pembentukan bijih emas yang selama ini dikenal dengan lingkungan epitermal, merupakan lingkungan geotermal dimana lapangan panas bumi terbentuk. Fluida hidrotermal merupakan media utama pembawa emas dan logam ikutannya. Cebakan bijih emas baik berupa urat kuarsa mengisi rongga rekahan dan patahan, maupun dalam bentuk tersebar mengisi pori batuan dan replacement, merupakan fosil dari aktifitas geotermal pada masa lalu. Fluida hidrotermal pada lingkungan epitermal potensial membawa unsur-unsur logam Cu, Pb, Zn, Mn, Fe, Cd, As, Sb, Au, Ag, Hg, dan S.
C.     Proses tektonik dan endogen terbentuknya gunung api yang mengandung emas
Akibat lain daripada gerak / dinamika tektonik, pada bagian lain terutama daerah yang berdekatan zona tepi interaksi antar masing-masing lempeng kerak berada dibawah gaya dan tekanan yang selanjutnya akan mengakibatkan perubahan sifat fisik batuan penyusun lempeng kerak bumi yang mengandung kandungan emas yang kemudian disebut sebagai deformasi batuan. Apabila tekanan melampaui batas dari daya tahan batuan maka batuan yang mengandung emas tersebut akan membentuk Patahan dan apabila batuan pada kondisi fisik tertentu mampu untuk mempertahankan daya elastisitasnya namun berubah karena tekanan maka batuan yang mengandung emas tersebut akan mengalami Perlipatan, sehingga gejala dinamika sebagaimana diterangkan menyebabkan, terbetuknya Gunung api yang mengandung emas. Selain itu Kejadian tektonik singkat yang penting adalah peristiwa pengangkatan yang diakibatkan oleh tumbukan dari busur kepulauan Melanesia. Hal ini digambarkan oleh irisan stratigrafi di bagian mulai dari batuan dasar yang ditutupi suatu sekuen dari bagian sisi utara Lempeng Australia yang membentuk Jalur Sesar Naik Papua. Bagian tepi utara dari jalur sesar naik ini dibatasi oleh batuan metamorf dan teras ophilite yang menandai kejadian pada Miosen Awal. Perbatasan bagian selatan dari sesar naik ini ditandai oleh adanya batuan dasar Precambrian yang terpotong di sepanjang Jalur Sesar Naik. Jejak mineral apatit memberikan gambaran bahwa terjadi peristiwa pengangkatan dan peruntuhan secara cepat pada 4 – 3,5 juta tahun yang lalu (Weyland, 1993). Selama Pliosen (7 – 1 juta tahun yang lalu) Jalur lipatan papua dipengaruhi oleh tipe magma I suatu tipe magma yang kaya akan komposisi potasium kalk alkali yang menjadi sumber mineralisasi Cu-Au yang bernilai ekonomi di Ersberg dan Okeitadi.

D.    Contoh gunung yang mengandung emas di Indonesia
1.      Contoh gunung api yang mengandung emas di Papua
       
2.      Contoh gunung api yang mengandung emas di Sumatra
Umumnya orang mengenal papua sebagai pulau penghasil emas karena begitu giatnya penambangan emas PT Freeport di papua. Namun, tahukah anda bahwa pulau sumatera juga adalah penghasil emas ? Sejak lama Sumatera sudah dikenal dengan nama Svarnadwipa atau pulau emas karena banyaknya logam mulia yang diperdagangkan di pulau ini. Istilah Svardnadwipa ini banyak ditemukan di naskah-naskah dan prasasti di India. Meskipun produksi emas Sumatera telah lama dikenal, sumber tambangnya tetap menjadi misteri hingga abad ke-20. Beberapa penjelajah mencatat, emas di Sumatera banyak dihasilkan dari pedalaman yang dihuni oleh manusia liar. Emas di Sumatera baru mulai ditambang Belanda sekitar tahun 1900, salah satunya yang tertua adalah di Lebong, Bengkulu, yang berada di kaki Bukit Barisan. Dalam tulisannya berjudul "Traditional Sumatran Trade" di Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient (1985), John N Miksic menyebutkan, pada abad ke-18, Belanda ataupun Inggris tidak menyadari telah sangat dekat dengan tempat yang begitu kaya dengan emas, Lebong, yang barangkali telah diusahakan selama berabad-abad oleh masyarakat tradisional. Formasi Lebong baru diketahui Belanda pada 1890-an dan sejak itu dieksploitasi habis-habisan. Dalam buku Mining in the Netherlands East Indies, Alex L ter Braake menyebut, perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij Simau mulai beroperasi di Lebong Tandai sejak tahun 1910 dan menuai sukses besar.
Eksplorasi terbaru menemukan bahwa jalur emas di Sumatera ternyata berimpit dengan garis patahan sebagaimana ditulis MJ Crow dan TM Van Leeuwen dalam buku Sumatra: Geology, Resources and Tectonic Evolution (2005). Proses mineralisasi emas ini disebutkan terjadi berbarengan dengan munculnya busur magma di sepanjang Bukit Barisan. Penunjaman lempeng (samudra) Indo-Australia ke lempeng (benua) Eurasia telah memicu terbentuknya busur magma di sepanjang jalur patahan itu. Di kedalaman 150-200 kilometer, temperatur Bumi sangat panas sehingga batuan di sekitar zona kontak dua lempeng ini meleleh. Sesuai sifat fluida (cairan), lelehan batuan panas ini naik ke atas membentuk kantong-kantong bubur batuan panas yang di kenal sebagai kantong magma. Interaksi magma dengan batuan dasar, pada tekanan tertentu, menyebabkan terbentuknya zona ubahan pada batuan induk lava dan tufa (sedimen bebatuan yang terbentuk dari letusan gunung berapi) yang kemudian berperan sebagai batuan induk kaya mineral (host rock), termasuk emas. Pada akhirnya, magma ini mendesak ke atas permukaan membentuk deretan kubah magma atau deretan gunung api di sepanjang Bukit Barisan. Pembentukan kubah magma ini juga mendorong bebatuan dasar yang dulu di dasar Samudra hingga ke puncak Bukit Barisan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Akibat lain daripada gerak / dinamika tektonik, pada bagian lain terutama daerah yang berdekatan zona tepi interaksi antar masing-masing lempeng kerak berada dibawah gaya dan tekanan yang selanjutnya akan mengakibatkan perubahan sifat fisik batuan penyusun lempeng kerak bumi yang mengandung kandungan emas yang kemudian disebut sebagai deformasi batuan. Apabila tekanan melampaui batas dari daya tahan batuan maka batuan yang mengandung emas tersebut akan membentuk Patahan dan apabila batuan pada kondisi fisik tertentu mampu untuk mempertahankan daya elastisitasnya namun berubah karena tekanan maka batuan yang mengandung emas tersebut akan mengalami Perlipatan, sehingga gejala dinamika sebagaimana diterangkan menyebabkan, terbetuknya Gunung api yang mengandung emas. Selain itu Kejadian tektonik singkat yang penting adalah peristiwa pengangkatan yang diakibatkan oleh tumbukan dari busur kepulauan Melanesia. Hal ini digambarkan oleh irisan stratigrafi di bagian mulai dari batuan dasar yang ditutupi suatu sekuen dari bagian sisi utara Lempeng Australia yang membentuk Jalur Sesar Naik Papua. Bagian tepi utara dari jalur sesar naik ini dibatasi oleh batuan metamorf dan teras ophilite yang menandai kejadian pada Miosen Awal. Perbatasan bagian selatan dari sesar naik ini ditandai oleh adanya batuan dasar Precambrian yang terpotong di sepanjang Jalur Sesar Naik. Jejak mineral apatit memberikan gambaran bahwa terjadi peristiwa pengangkatan dan peruntuhan secara cepat pada 4 – 3,5 juta tahun yang lalu (Weyland, 1993). Selama Pliosen (7 – 1 juta tahun yang lalu) Jalur lipatan papua dipengaruhi oleh tipe magma I suatu tipe magma yang kaya akan komposisi potasium kalk alkali yang menjadi sumber mineralisasi Cu-Au yang bernilai ekonomi di Ersberg dan Okeitadi.



DAFTAR PUSTAKA


http://kabarnet.wordpress.com/2010/10/03/freeport-kuasai-dua-gunung-emas-di-papua/


http://kotakpengetahuan.blogspot.com/2012/02/proses-terbentuknya-emas.html




Selasa, 23 Oktober 2012

UNDER BOUNDED CITY


Contoh kerjasama antar wilayah yang diakibatkan persoalan di under bounded city?

Dalam hal ini kami mengambil contoh wilayah Under Bounded City antara ibu kota Jakarta dengan kota Bogor. Ini merupakan bentuk goodwill dari gubernur untuk bekerjasama dengan kepala daerah di sekitar Jakarta. Karena semua mengetahui, pembangunan dan pengembangan daerah masing-masing tidak bisa sendiri-sendiri. Ada tiga masalah penting yang akan di singkronkan pelaksanaannya yakni transportasi, kependudukan, dan penangan banjir. Perlu diketahui juga, bahwa beberapa catatan penting yang harus diperhatikan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor dengan Ibukota Jakarta adalah:

Pertama, bidang Tata Ruang. Bidang tersebut belum adanya keterpaduan tata ruang DKI Jakarta dengan Wilayah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Saat ini sedang dalam finalisasi Raperpres RT/RW Jabodetabekjur sebagai pedoman penyusunan Raperda RT/RW masing-masing daerah. Dan, belum adanya keserasian tingkat kedalaman peta perencanaan di wilayah perbatasan yang disebabkan karena adanya perbedaan skala peta dan nomenklatur.

Kedua, bidang transportasi. Di bidang ini, belum adanya keterpaduan model angkutan dan sistem jaringan jalan, serta belum adanya sinergi izin trayek di wilayah lintas batas serta tingginya tingkat commuter.

Ketiga, pajak. Banyaknya kendaraan bernomor polisi "B" Jakarta, sementara pemiliknya berdomisili di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

Keempat, infrastruktur. Masih banyaknya kendaraan bermotor di Jakarta memberikan kontribusi terhadap kerusakan jalan.

Kelima, pengelolaan sungai atau kali. Saat ini belum optimalnya pengelolaan sungai dari hulu ke hilir.

Keenam, kependudukan, masih minimnya pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah di wilayah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.


KISAH TUKANG KAYU

Seorang tukang bangunan yang sudah
tua berniat untuk pensiun dari
profesi yang sudah ia geluti selama
puluhan tahun.

Ia ingin menikmati masa tua bersama
istri dan anak cucunya. Ia tahu ia
akan kehilangan penghasilan rutinnya
namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh
istirahat. Ia pun menyampaikan
rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia
akan kehilangan salah satu tukang
kayu terbaiknya, ahli bangunan yang
handal yang ia miliki dalam timnya.
Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum
tukang kayu tua ini berhenti, sang
mandor memintanya untuk sekali lagi
membangun sebuah rumah untuk terakhir
kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu
menyanggupi namun ia berkata karena
ia sudah berniat untuk pensiun maka
ia akan mengerjakannya tidak dengan
segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan
berkata, "Kerjakanlah dengan yang
terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas
membangun dengan semua bahan terbaik
yang ada."

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan
terakhirnya. Ia begitu malas-malasan.
Ia asal-asalan membuat rangka
bangunan, ia malas mencari, maka ia
gunakan bahan-bahan berkualitas
rendah. Sayang sekali, ia memilih
cara yang buruk untuk mengakhiri
karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor
datang untuk memeriksa. Saat sang
mandor memegang daun pintu depan, ia
berbalik dan berkata, "Ini adalah
rumahmu, hadiah dariku untukmu!"

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia
sangat menyesal. Kalau saja sejak
awal ia tahu bahwa ia sedang
membangun rumahnya, ia akan
mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya,
ia harus tinggal di rumah yang ia
bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini.
Anggaplah rumah itu sama dengan
kehidupan Anda. Setiap kali Anda
memalu paku, memasang rangka,
memasang keramik, lakukanlah dengan
segenap hati dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah
akibat dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari
keputusanmu saat ini. 

Diunduh dari www.AnneAhiraNewsletter.com

////////////////////////////////////////

DEFORESTATION


1)    WHAT DO YOU THINK ABOUT DEFORESTATION
    My thoughts about this is simple. a simple  disruption in the earth's delicate balance can mean certain destruction of the very place that cradles the lives of many species. Forests are given credit for things as minor as the spices that endulge food to life giving medicines. The rainforests amplify and saves lives! Also I to ment to mention that not only are other rare species at risk, but the human race also benefits what trees give severely! Oh one more thing. Tropical Rainforests presently give a place to call home for 50%-90% of all organisms and 50 million creatures that can't live no place else but the rich Rainforests.

2)  THE CAUSES OF THE DEFORESTATION   
          Urban Construction
The cutting down of trees for lumber that is used for building materials, furniture, and paper products have a major impact on forest life. Forests are cleared to accommodate expanding urban areas. This results in loss of forest area and massive deforestation.

Agriculture
Forests are also cut down to clear land for growing crops, build farms, ranches and other food growing lands.

Grazing Land
Forests are cut down in order create land for grazing cattle. Huge herds of animals require food and forests are cleared out to make way for grazing lands for these cattle.

Used for Fuel
Trees are cut down in developing countries to be used as firewood or turned into charcoal, which are used for cooking and heating purposes.

Commercial Purposes
Some of the other causes are: clearing forests for oil and mining exploitation, to make highways and roads, slash and burn farming techniques, wildfires, and acid rain. Forest fires can occur naturally or in most cases are deliberate attempts by man to clear huge forests. Most of the time, these forests may recover, but usually the cleared land is used for construction and agriculture purposes. This leads to loss of forests and loss of habitat for the local wildlife.

Illegal Logging
Many government agencies are fighting illegal logging to protect the forests. However, any type of logging legal or illegal leads to deforestation. Trees are cut down indiscriminately by logging companies, to fulfill the demands of the wood market. This does not give a chance to the local wildlife and trees to regenerate and sustain themselves. Thus, leading to loss of wildlife forever.


3)      If deforestration continues, there will be more demand for pure air.So, people will suffer from many diseases and ailments due to increased emission of CO2 and other gases. There will be very very less rainfall. Slowly, our earth will be destroyed by many natural calamities due to absence of trees and forests.Finally, at one time, the whole world will be destroyed and nothing will be left behind.

4)     WHO IS RESPONSIBLE OF DEFORESTATION
          Human is responsible for the deforestation.Due to rapid growth of human population the need for the house and other things are also increasing. This is resulting deforestation. in addition, the government is also responsible for logging the government should impose penalties for illegal loggers.

Jumat, 12 Oktober 2012

DANAU BOROBUDUR


A.    DANAU BOROBUDUR

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (870 kaki) dari permukaan laut dan 15 m (49 kaki) di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20; dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau. Pada 1931, seorang seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha; seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Akan tetapi teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini banyak menuai bantahan dari para arkeolog; pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau purba.

B.     PROSES TERBENTUKNYA DANAU BOROBUDUR
Kawasan  Borobudur  berbatasan dengan perbukitan Menoreh di Kulonprogo. Van Bemmelen (1949) menyebutkan bahwa zaman tersier dikompleks Kulonprogo terjadi aktivitas gunungapi, salah satunya Gunungapi Menoreh, dimana satuan tersebu tadi masukkan kedalam Formasi Andesit Tua.  kala Plesitosen kompleks Kulonprogo ini terangkat, dan menyebabkan bagian utara Gunung Gandul mengalami pensesaran yang berarah timur tenggara barat barat laut, dimana satuan Andesit Tua di daerah Borobudur  menghilang dan tertutup oleh alluvium dataran Magelang. Helmy Murwanto (1996), menyimpulkan bahawa lingkungan danau Borobudur masih berlangsung hingga 1271 M dan telah tertimbun seluruhnya oleh material vulkanik pada tahun 1288 M dan membentuk bentang alam dataraan bekas danau. Mulyaningsih (2000), menyebutkan bahwa pada tahun 1285 M telah terjadi letusan Gunung Merapi yang cukup besar dengan jangkauan material piroklastik sejauh 35 kilometer ke arah selatan, hal ini diduga membentuk tanggula alam akibat menumpuk dan membedung aliran tersebut dan membentuk danau Borobudur ini. Wacana tentang adanya danau purba di daerah Borobudur awalnya dikemukakan oleh W.O.J Nieuwenkamp (1931), seorang seniman sekaligus arsitek dari Belanda. Tidak lama kemudian Van Bemmelen (1949), seorang ahli geologi kewarganegaraan Belanda dalam bukunya yang berjudul The Geology of  Indonesia (Geologi Indonesia). Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun1006 M ini).  Praptisih (2002), melakukan pengukuran stratigrafi terukut pada Kali Tinalah, Kali Krasak, Kali Progo, Kali Elli, Blondo, Candi Pendem, Candi Lumbung, Candirejo, KaliSileng. Bedasarkan data-data yang diperoleh Praptisih mengelompokan litologi yang menyusun daerah Borobudur– Kalibawang dari tua kemuda antara lain: Satuan Gunung api Tersier (Formasi Andesit Tua), Satuan Tufa pasiran, Satun lempung-lanau, Satuan Konglomerat, Satuan Lahar. Dari hasil urutan satuan batuan yang menarik adalah pada Satuan lempung-lanau yang juga terdapat tufa yang makin keatas bercak putihnya makin dominan dan makin halus butirnya. Pada satuan ini di beberapa lokasi dijumpai jejak fragmen fosil kayu. Fosil kayu yang terdapat di Kali Sileng ditafsirkan berumur 611 ± 100 tahun BP hingga 856 ± 50 tahun BP (Murwanto, 1996) sedangkan menurut Newhall dkk (2000) berumur 420 ± 50 tahun BP hingga 3470 ± 50 tahun BP. Tebal keseluruhan lapisan ini ± 6,5 meter hingga 10 meter, dimana yang tersingkap di Kali Elo ± 2,5 meter, Kali Sileng ± 6– 8 meter. Di lintasan Kali Sileng juga dijumpai mata air asin yang ditafsirkan sebagai proses reduksi dari air tanah. Hadirnya lapisan tufa dengan ketebalan yang tipis, mengindikasikan bahwa daerah ini pernah tertutup oleh debu volkanik yang berasal dari letusan gunung api pada kala Kuarterneri. Lapisan lanau-pasir yang memperlihatkan struktur sedimen paralel laminasi, tampaknya dipengaruhi oleh lingkungan pengendapan yang tenang, Sedangkan lapisan pasir dan krikil di beberapa tempat sering memperlihatkan struktur silang siur dan membaji, diduga pada posisi tersebut pada lingkungan sungai yang teranyam (Praptisih, 2002).Pada tahun 2001, H. Murwanto dkk melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter.

C.     BUKTI ADANYA DANAU BOROBUDUR
Sementara itu pakar geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp. Ketinggian permukaan danau purba ini naik-turun berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan bukti menunjukkan bahwa dasar bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14. Aliran sungai dan aktivitas vulkanik diduga memiliki andil turut merubah bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak cukup dekat dengan Borobudur dan telah aktif sejak masa Pleistosen. Menurut dua peneliti terdahulu yang telah meneiti keberadaan danau purba di Borobudur, kesamaan terletak pada lapisan satuan lempung-lanau. Yang didalamnya terdapat lempung hitam yang banyak memberikan informasi tentang keberadaan danau purba. Data lempung hitam yang mengindikasikan kondisi lingkungan yang reduksi dan mekanisme arus yang tenang ,mengindikasikan lingkungan danau. Kemungkinan daerah ini merupakan suatu laguna sehingga menyebabkan terjebaknya air laut di daratan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sumur air asin di daerah Desa Candirejo, Sigug,dan Ngasinan. Berdasarkan hasil data dari peneliti sebelumnya hipotesa tentang adanya danau purba terbukti. Data geologi yang yang membuktikan adanya danau purba berupa data urut-urutan lapisan batuan dan endapan material lepas,fosil pollen, dan penarikan unsur radioaktif. Struktur sedimen laminasimen dindikasi lingkungan dengan mekanisme arus tenang. Penarikan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22.000 tahun, dari hasil ini bisa disimpulkan danau ini sudah ada sejak 22.000 tahun lalu(zaman Plistosen), dan berakhir disekitar akhir abad ke 10 hingga abad ke 13. Lempung hitam banyak mengandung serbuk sari (pollen) dari tanaman komunitas rawa atau danau,antara lain Commelina, Cyperaceae, Nymphaea stellata, dan Hydrocharis, juga fosil kayu. Jenis flora ini merupakan tumbuhan yang hidup pada ekosistem danau.