Selasa, 23 Oktober 2012

UNDER BOUNDED CITY


Contoh kerjasama antar wilayah yang diakibatkan persoalan di under bounded city?

Dalam hal ini kami mengambil contoh wilayah Under Bounded City antara ibu kota Jakarta dengan kota Bogor. Ini merupakan bentuk goodwill dari gubernur untuk bekerjasama dengan kepala daerah di sekitar Jakarta. Karena semua mengetahui, pembangunan dan pengembangan daerah masing-masing tidak bisa sendiri-sendiri. Ada tiga masalah penting yang akan di singkronkan pelaksanaannya yakni transportasi, kependudukan, dan penangan banjir. Perlu diketahui juga, bahwa beberapa catatan penting yang harus diperhatikan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor dengan Ibukota Jakarta adalah:

Pertama, bidang Tata Ruang. Bidang tersebut belum adanya keterpaduan tata ruang DKI Jakarta dengan Wilayah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Saat ini sedang dalam finalisasi Raperpres RT/RW Jabodetabekjur sebagai pedoman penyusunan Raperda RT/RW masing-masing daerah. Dan, belum adanya keserasian tingkat kedalaman peta perencanaan di wilayah perbatasan yang disebabkan karena adanya perbedaan skala peta dan nomenklatur.

Kedua, bidang transportasi. Di bidang ini, belum adanya keterpaduan model angkutan dan sistem jaringan jalan, serta belum adanya sinergi izin trayek di wilayah lintas batas serta tingginya tingkat commuter.

Ketiga, pajak. Banyaknya kendaraan bernomor polisi "B" Jakarta, sementara pemiliknya berdomisili di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

Keempat, infrastruktur. Masih banyaknya kendaraan bermotor di Jakarta memberikan kontribusi terhadap kerusakan jalan.

Kelima, pengelolaan sungai atau kali. Saat ini belum optimalnya pengelolaan sungai dari hulu ke hilir.

Keenam, kependudukan, masih minimnya pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah di wilayah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.


KISAH TUKANG KAYU

Seorang tukang bangunan yang sudah
tua berniat untuk pensiun dari
profesi yang sudah ia geluti selama
puluhan tahun.

Ia ingin menikmati masa tua bersama
istri dan anak cucunya. Ia tahu ia
akan kehilangan penghasilan rutinnya
namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh
istirahat. Ia pun menyampaikan
rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia
akan kehilangan salah satu tukang
kayu terbaiknya, ahli bangunan yang
handal yang ia miliki dalam timnya.
Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum
tukang kayu tua ini berhenti, sang
mandor memintanya untuk sekali lagi
membangun sebuah rumah untuk terakhir
kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu
menyanggupi namun ia berkata karena
ia sudah berniat untuk pensiun maka
ia akan mengerjakannya tidak dengan
segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan
berkata, "Kerjakanlah dengan yang
terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas
membangun dengan semua bahan terbaik
yang ada."

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan
terakhirnya. Ia begitu malas-malasan.
Ia asal-asalan membuat rangka
bangunan, ia malas mencari, maka ia
gunakan bahan-bahan berkualitas
rendah. Sayang sekali, ia memilih
cara yang buruk untuk mengakhiri
karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor
datang untuk memeriksa. Saat sang
mandor memegang daun pintu depan, ia
berbalik dan berkata, "Ini adalah
rumahmu, hadiah dariku untukmu!"

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia
sangat menyesal. Kalau saja sejak
awal ia tahu bahwa ia sedang
membangun rumahnya, ia akan
mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya,
ia harus tinggal di rumah yang ia
bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini.
Anggaplah rumah itu sama dengan
kehidupan Anda. Setiap kali Anda
memalu paku, memasang rangka,
memasang keramik, lakukanlah dengan
segenap hati dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah
akibat dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari
keputusanmu saat ini. 

Diunduh dari www.AnneAhiraNewsletter.com

////////////////////////////////////////

DEFORESTATION


1)    WHAT DO YOU THINK ABOUT DEFORESTATION
    My thoughts about this is simple. a simple  disruption in the earth's delicate balance can mean certain destruction of the very place that cradles the lives of many species. Forests are given credit for things as minor as the spices that endulge food to life giving medicines. The rainforests amplify and saves lives! Also I to ment to mention that not only are other rare species at risk, but the human race also benefits what trees give severely! Oh one more thing. Tropical Rainforests presently give a place to call home for 50%-90% of all organisms and 50 million creatures that can't live no place else but the rich Rainforests.

2)  THE CAUSES OF THE DEFORESTATION   
          Urban Construction
The cutting down of trees for lumber that is used for building materials, furniture, and paper products have a major impact on forest life. Forests are cleared to accommodate expanding urban areas. This results in loss of forest area and massive deforestation.

Agriculture
Forests are also cut down to clear land for growing crops, build farms, ranches and other food growing lands.

Grazing Land
Forests are cut down in order create land for grazing cattle. Huge herds of animals require food and forests are cleared out to make way for grazing lands for these cattle.

Used for Fuel
Trees are cut down in developing countries to be used as firewood or turned into charcoal, which are used for cooking and heating purposes.

Commercial Purposes
Some of the other causes are: clearing forests for oil and mining exploitation, to make highways and roads, slash and burn farming techniques, wildfires, and acid rain. Forest fires can occur naturally or in most cases are deliberate attempts by man to clear huge forests. Most of the time, these forests may recover, but usually the cleared land is used for construction and agriculture purposes. This leads to loss of forests and loss of habitat for the local wildlife.

Illegal Logging
Many government agencies are fighting illegal logging to protect the forests. However, any type of logging legal or illegal leads to deforestation. Trees are cut down indiscriminately by logging companies, to fulfill the demands of the wood market. This does not give a chance to the local wildlife and trees to regenerate and sustain themselves. Thus, leading to loss of wildlife forever.


3)      If deforestration continues, there will be more demand for pure air.So, people will suffer from many diseases and ailments due to increased emission of CO2 and other gases. There will be very very less rainfall. Slowly, our earth will be destroyed by many natural calamities due to absence of trees and forests.Finally, at one time, the whole world will be destroyed and nothing will be left behind.

4)     WHO IS RESPONSIBLE OF DEFORESTATION
          Human is responsible for the deforestation.Due to rapid growth of human population the need for the house and other things are also increasing. This is resulting deforestation. in addition, the government is also responsible for logging the government should impose penalties for illegal loggers.

Jumat, 12 Oktober 2012

DANAU BOROBUDUR


A.    DANAU BOROBUDUR

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (870 kaki) dari permukaan laut dan 15 m (49 kaki) di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20; dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau. Pada 1931, seorang seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha; seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Akan tetapi teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini banyak menuai bantahan dari para arkeolog; pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau purba.

B.     PROSES TERBENTUKNYA DANAU BOROBUDUR
Kawasan  Borobudur  berbatasan dengan perbukitan Menoreh di Kulonprogo. Van Bemmelen (1949) menyebutkan bahwa zaman tersier dikompleks Kulonprogo terjadi aktivitas gunungapi, salah satunya Gunungapi Menoreh, dimana satuan tersebu tadi masukkan kedalam Formasi Andesit Tua.  kala Plesitosen kompleks Kulonprogo ini terangkat, dan menyebabkan bagian utara Gunung Gandul mengalami pensesaran yang berarah timur tenggara barat barat laut, dimana satuan Andesit Tua di daerah Borobudur  menghilang dan tertutup oleh alluvium dataran Magelang. Helmy Murwanto (1996), menyimpulkan bahawa lingkungan danau Borobudur masih berlangsung hingga 1271 M dan telah tertimbun seluruhnya oleh material vulkanik pada tahun 1288 M dan membentuk bentang alam dataraan bekas danau. Mulyaningsih (2000), menyebutkan bahwa pada tahun 1285 M telah terjadi letusan Gunung Merapi yang cukup besar dengan jangkauan material piroklastik sejauh 35 kilometer ke arah selatan, hal ini diduga membentuk tanggula alam akibat menumpuk dan membedung aliran tersebut dan membentuk danau Borobudur ini. Wacana tentang adanya danau purba di daerah Borobudur awalnya dikemukakan oleh W.O.J Nieuwenkamp (1931), seorang seniman sekaligus arsitek dari Belanda. Tidak lama kemudian Van Bemmelen (1949), seorang ahli geologi kewarganegaraan Belanda dalam bukunya yang berjudul The Geology of  Indonesia (Geologi Indonesia). Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun1006 M ini).  Praptisih (2002), melakukan pengukuran stratigrafi terukut pada Kali Tinalah, Kali Krasak, Kali Progo, Kali Elli, Blondo, Candi Pendem, Candi Lumbung, Candirejo, KaliSileng. Bedasarkan data-data yang diperoleh Praptisih mengelompokan litologi yang menyusun daerah Borobudur– Kalibawang dari tua kemuda antara lain: Satuan Gunung api Tersier (Formasi Andesit Tua), Satuan Tufa pasiran, Satun lempung-lanau, Satuan Konglomerat, Satuan Lahar. Dari hasil urutan satuan batuan yang menarik adalah pada Satuan lempung-lanau yang juga terdapat tufa yang makin keatas bercak putihnya makin dominan dan makin halus butirnya. Pada satuan ini di beberapa lokasi dijumpai jejak fragmen fosil kayu. Fosil kayu yang terdapat di Kali Sileng ditafsirkan berumur 611 ± 100 tahun BP hingga 856 ± 50 tahun BP (Murwanto, 1996) sedangkan menurut Newhall dkk (2000) berumur 420 ± 50 tahun BP hingga 3470 ± 50 tahun BP. Tebal keseluruhan lapisan ini ± 6,5 meter hingga 10 meter, dimana yang tersingkap di Kali Elo ± 2,5 meter, Kali Sileng ± 6– 8 meter. Di lintasan Kali Sileng juga dijumpai mata air asin yang ditafsirkan sebagai proses reduksi dari air tanah. Hadirnya lapisan tufa dengan ketebalan yang tipis, mengindikasikan bahwa daerah ini pernah tertutup oleh debu volkanik yang berasal dari letusan gunung api pada kala Kuarterneri. Lapisan lanau-pasir yang memperlihatkan struktur sedimen paralel laminasi, tampaknya dipengaruhi oleh lingkungan pengendapan yang tenang, Sedangkan lapisan pasir dan krikil di beberapa tempat sering memperlihatkan struktur silang siur dan membaji, diduga pada posisi tersebut pada lingkungan sungai yang teranyam (Praptisih, 2002).Pada tahun 2001, H. Murwanto dkk melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter.

C.     BUKTI ADANYA DANAU BOROBUDUR
Sementara itu pakar geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp. Ketinggian permukaan danau purba ini naik-turun berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan bukti menunjukkan bahwa dasar bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14. Aliran sungai dan aktivitas vulkanik diduga memiliki andil turut merubah bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak cukup dekat dengan Borobudur dan telah aktif sejak masa Pleistosen. Menurut dua peneliti terdahulu yang telah meneiti keberadaan danau purba di Borobudur, kesamaan terletak pada lapisan satuan lempung-lanau. Yang didalamnya terdapat lempung hitam yang banyak memberikan informasi tentang keberadaan danau purba. Data lempung hitam yang mengindikasikan kondisi lingkungan yang reduksi dan mekanisme arus yang tenang ,mengindikasikan lingkungan danau. Kemungkinan daerah ini merupakan suatu laguna sehingga menyebabkan terjebaknya air laut di daratan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sumur air asin di daerah Desa Candirejo, Sigug,dan Ngasinan. Berdasarkan hasil data dari peneliti sebelumnya hipotesa tentang adanya danau purba terbukti. Data geologi yang yang membuktikan adanya danau purba berupa data urut-urutan lapisan batuan dan endapan material lepas,fosil pollen, dan penarikan unsur radioaktif. Struktur sedimen laminasimen dindikasi lingkungan dengan mekanisme arus tenang. Penarikan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22.000 tahun, dari hasil ini bisa disimpulkan danau ini sudah ada sejak 22.000 tahun lalu(zaman Plistosen), dan berakhir disekitar akhir abad ke 10 hingga abad ke 13. Lempung hitam banyak mengandung serbuk sari (pollen) dari tanaman komunitas rawa atau danau,antara lain Commelina, Cyperaceae, Nymphaea stellata, dan Hydrocharis, juga fosil kayu. Jenis flora ini merupakan tumbuhan yang hidup pada ekosistem danau.


Rabu, 12 September 2012

KADAR AIR



1.      Kadar Air
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Winarno, 1997).
Kadar Air bubuk cokelat yang dihasilkan berkisar antara 3,00 % - 4, 85 %, Rata-rata kadar air bubuk cokelat yaitu 3,81 % (Lampiran 4a). Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 4b) menunjukkan bahwa waktu fermentasi (F) dan lama pengeringan (K) berpengaruh sangat nyata (P≤ 0,01) terhadap kadar air bubuk cokelat yang dihasilkan, sedangkan faktor interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata (P>0,01)
.https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz3hvInpSre3jQ1rOhy-ejzyirPQnbWbPB_OqFbOiNakZg4MIvamwaK3EoO6dtqfMjwSlAJwePhLiHXjkjp9grt6tGdbD2o6L4OSQdy7NUjxhuyJ0LzURc1wnzBcaapm6S0XScW_bZDnuQ/s320/1.jpg
Gambar 9a. Pengaruh waktu fermentasi terhadap kadar air bubuk cokelat BNT   0,01=0,14, KK=5,23 (notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan sangat nyata faktor waktu fermentasi).
Hasil uji lanjut BNT0,01 (Gambar 9a) menunjukkan bahwa perlakuan waktu fermentasi memberikan kadar air yang berbeda sangat nyata (P≤ 0.01) terhadap bubuk cokelat yang dihasilkan. Perlakuan waktu fermentasi 3 hari kadar air bubuk cokelat yang diperoleh adalah 3,58 % (kadar air bubuk cokelat terendah), dan waktu fermentasi 5 hari diperoleh kadar airnya 3,75 %, sedangkan 7 hari memberikan kadar air bubuk cokelat tertinggi yaitu 4,11 %.
Kadar air bubuk cokelat yang dihasilkan cenderung meningkat dengan semakin meningkatnya waktu fermentasi. Pada awal fermentasi sekitar 48 jam, pada biji yang difermentasi terjadi reaksi penguraian gula invert dan air menghasilkan etanol dan CO2, kemudian pemecahan etanol menjadi asam laktat dan air. Hal ini menyebabkan selama berlangsungnya waktu fermentasi terjadi peningkatan kadar air dalam biji cokelat. Menurut Buckle (1987) sifat-sifat bahan hasil fermentasi ditentukan oleh mutu bahan pangan dan sifat-sifat asal bahan pangan itu sendiri, serta perubahan yang terjadi setelah fermentasi merupakan hasil fermentasi. Fermentasi oleh mikroorganisme yang dikehendaki memberi flavor, bentuk yang bagus (bouquet ) dan tekstur bahan pangan yang difermentasi. Waktu fermentasi adalah salah satu faktor terpenting penyebab meningkatnya kadar air sehingga dengan meningkatnya waktu fermentasi maka kadar air dalam bubuk coklat akan meningkat pula (Mulato, 2003).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4G0h8ygiQeNrO-yztd5Q3cD94YGn0vB688iuDFZMxfKNG8CgieZ4UaqNmHapFtUxjTNjWLkdy9wH6k3KZ-1_JB9bIiAsrH1d0i4KXT9aUcKo8aIxfZbwd9ECABI2IrXetnPFfZhwEcabM/s320/2.jpg
Gambar 9b. Pengaruh lama pengeringan terhadap kadar air bubuk cokelat BNT 0,01=0,14, KK=5,23 (notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan sangat nyata faktor lama pengeringan).
Hasil uji lanjut BNT0,01 (Gambar 9b) menunjukkan bahwa kadar air bubuk cokelat antara satu perlakuan lama pengeringan dengan perlakuan lama pengeringan lainnya berbeda sangat nyata (P≤0,01). Pada lama pengeringan 2 hari diperoleh kadar air bubuk cokelat tertinggi yaitu 4,48%, lama pengeringan 3 hari dihasilkan kadar air sebesar 3,65%, sedangkan lama pengeringan 4 hari dihasilkan kadar air terendah yaitu 3,30%.
Pada gambar terlihat bahwa kadar air cenderung menurun dengan meningkatnya lama pengeringan. Wirakartakusumah et al. (1992) menyatakan bahwa proses pengeringan sangat dipengaruhi oleh suhu dan lama pengeringan. Pengeringan dengan menggunakan suhu yang tinggi dapat mengakibatkan pengeringan yang tidak merata yaitu bagian luar kering sedangkan bagian dalam masih banyak mengandung air (Buckle et al., 1988; Muchtadi et al., 1992). Menurut Earle (1981) Faktor-faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah : (a). Sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), (b). Pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindah panas (seperti nampan untuk pengeringan). (c). Sifat-sifat fisik dari lingkungan alat pengering (suhu, kelembaban, dan kecepatan udara). (d). Karakteristik alat pengering (Efisiensi pemindahan panas).

a.      Kadar Air Basis Basah dan Kadar Air Basis Kering

Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100 persen, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100 persen.  (Syarif dan Halid, 1993).
Tabrani (1997), menyatakan bahwa kadar air merupakan pemegang. peranan penting, kecuali temperatur maka aktivitas air mempunyai tempat tersendiri dalam proses pembusukan dan ketengikan. Kerusakan bahan makanan pada umumnya merupakan proses mikrobiologis, kimiawi, enzimatik atau kombinasi antara ketiganya. Berlangsungnya ketiga proses tersebut memerlukan air dimana kini telah diketahui bahwa hanya air bebas yang dapat membantu berlangsungnya proses tersebut.
Kadar air suatu bahan biasanya dinyatakan dalam persentase berat bahan basah, misalnya dalam gram air untuk setiap 100gr bahan disebut kadar air berat basah. Kadar air basis basah dapat ditentukan dengan persamaan berikut :
http://yefrichan.files.wordpress.com/2010/08/copy-of-basis-basah1.jpg?w=604
Dimana :
m         = Kadar air basis basah (%)
Wm     = Berat air  dalam bahan (gr)
Wd      = berat bahan kering mutlak (gr)
Wt       = Berat total = Wm + Wd dalam (gr )
Cara lain untuk menyatakan kadar air adalah kadar air basis kering yaitu : air yang diuapkan dibagi berat bahan setelah pengeringan. Jumlah air yang diuapkan adalah berat bahan sebelum pengeringan dikurangi berat bahan setelah pengeringan dan dinyatakan dalam persamaan berikut:
http://yefrichan.files.wordpress.com/2010/08/basis-basah.jpg?w=604
Dimana :
M         = Kadar air basis kering (%)
Wd       = Berat air dalam bahan (gr)
m         = Berat bahan kering mutlak (gr)
= Kadar air basis basah
Berat bahan kering adalah berat bahan setelah mengalami pemanasan beberapa waktu tertentu sehingga beratnya tetap (konstan). Pada proses pengeringan air yang terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya diuapkan. (Kusumah, Herminianto dan Andarwulan, 1989).

b.      Kesalahan-kesalahan dalam analisis kadar air

Analisis kadar air menggunakan pengering oven merupakann cara analisis yang paling banyak digunakan karena relatif sederhana. namun demikian, sering ada kesalahan yang diabaikan penelitia yaitu:
  1. Jika suhu oven yang digunakan lebih kecil dari yang seharusnya (105 C) dapat mengakibatkan tidak semua air dalam contoh teruapkan sehingga dapat menyebabkan kadar air yang diperoleh lebih kecil dari yang seharusnya.
  2. Jika suhu oven lebih besar dari yang seharusnya dapat menyebakan kadar air lebih tinggi karena tidak hanya air yang teruapkan akan tetapi minyak atsiri yang mudah menguappun ikut teruapkan
  3. Neraca analtik tidak terkalibrasi juga suhu oven
2.      Batas lekat
Batas lekat adalah kandungan lengas pada saat masih kering yang dibasahi secara perlahan dan mulai melekat pada logam.
3.      Batas gulung
Batas gulung adalah kandungan lengaspada saat keliatan mulai terasa dan tanah dapat dibentuk sesuai dengan yang dikehendaki. Tanah mulai berada pada kondisi semi padat.

4.      Batas berubah warna
Batas berubah warna adalah kandungan lengas tanah pada saat pasta mulai kering karena masih ada air kapiler, tetapi udara mulai masuk ke dalam pori yang ditandai oleh perubahan warna secara tegas menjadi berwarna lebih muda. Tanah memasuki kondisi lebih padat.

5.      Batas cair


DAFTAR PUSTAKA